THE BACKSTAGE
there's so much going on
unspoken in the back
of the mind

March 08, 2018

What's Next?

Up to one extent that I simply can't take it anymore. My head is too full, questioning a lot of things. Those questions seemed to crash one another inside the brain, waiting to be answered, or at least paid attention.

Jump to the international health course makes me realize that those health problems happening in my country are not because of our determinants of health, it's happening everywhere, in every part of this globe. It's there for years and stays still though many experts been there since the very beginning.

Life is a complicated merely. There are not many changes. As much as people want to change, they stay the same. I remain the same, with more or less the same complication. Life threw me into a different world, the one that I have never imagined before.

It is hard, but it is also easy. It is just full of contradiction. You want to be thankful, yet things get tough many times. You want to make an impact at work, but the situation is quite toxic you know you'll get affected. You want to be rational, but you can't help being too emotional. And so on and the opposite.

So you get confused most of the times. And I am not sure if that is a good sign or a bad sign. There are just way too many things you want to achieve, but you need to face the ugly truth that it is not happening. You want to be extraordinary, but you like the ordinary.

Or maybe it is the human part of life, or of a human. Human just don't change. Human just like to stay comfortable.

Or it may not.

I am seriously not sure. I get even more confused the more I write.

February 11, 2018

LOA

YES! Akhirnya saya ada niat dan waktu lagi buat ngelunasin hutang saya cerita tentang gimana cara saya bisa dapet 5 Unconditional LOA dari 5 Universitas yang saya daftar. Saya tekankan disini saya cuma berbagi pengalaman ya karena banyak yang tanya dan minta tips. Sebelum daftar, siapin semua berkas nya dulu mbak mas.

Berkas:
- Scan paspor
- CV: Saya pake versi Europass. Bisa dibikin disini. Saya bikin beda-beda untuk setiap uni yang saya daftar karena ada kolom "aim" di CV ini jadi saya sesuaikan dengan nama program dan uni yang akan saya daftar. Contoh: "applying Master degree of Science in International Health, University of Heidelberg, Germany". Termasuk disini saya cantumin riwayat pekerjaan, prestasi, daftar publikasi jurnal ilmiah dan presentasi (buat nunjukkin skill dan pengalaman penelitian saya) yang saya punya, yang emang dari awal kuliah S1 udah saya proyeksikan ke jurusan yang mau saya ambil saat S2. Jadi semua linear. 
- Letter of recommendation: Bisa dari pembimbing skripsi semasa S1, atasan semasa kerja, profesor di Universitas semasa S1, pokoknya yang kenal kamu, tahu kualitasmu dan kalau bisa linier sama bidang yang kamu mau ambil.
- Ijazah dan transkrip nilai berbahasa Inggris.
- Skor bahasa inggris (saya pake IELTS, minimal score nya berapa tergantung jurusan & universitas masing-masing. Kebanyakan minimal overall 6.5). Makin tinggi makin mantep.
- Motivation letter: Kamu siapa, kamu pernah ngapain, kamu punya keahlian apa, mau riset apa selama studi dan mau ngapain setelah lulus dengan gelar ini. Cara saya bisa bikin motivation letter yang menurut saya cukup bagus karena buktinya bisa diterima dimana-mana adalah dengan minta saran orang lain. Waktu itu saya paksa mantan pacar saya (sekarang suami) buat baca terus saya suruh jujur ada yang aneh/jelek/kurang ato enggak. Saya juga minta saran dari native speaker di lembaga belajar bahasa inggris di Solo. Pokoke mintalah saran sama orang yang kira-kira bisa membangun ya bukan yang malah menjatuhkan hehehe.
- Form aplikasi: Tergantung kebijakan uni. Kalau ga salah dulu cuma Heidelberg yang ada begininya.

Sip langsung aja ya gausah kebanyakan intro. Berikut resep LOA dari saya diurutkan sesuai yang lebih dulu saya dapetin:

1. Umeå University, Sweden (Master's Programme in Public Health)
Saya agak sedih tapi juga bangga kalau inget perjuangan saya untuk yang satu ini.
Berawal dari datang symposium di Solo, saya ketemu sama pembicara dari uni ini, nama beliau Prof. Nawi. Pas coffee break saya deketin beliau, saya tanya-tanya tentang master program dan penelitian apa yang lagi jadi fokus uni ini. Selama ngobrol kami pake full english, karena pas symposium beliau presentasi pake english jadi saya pikir dia orang luar. Sampe akhirnya ada orang menyela kami dengan Bahasa Indonesia dan Prof. Nawi jawab dengan Bahasa Indonesia juga, dan langsung tanpa ingat situasi sekitar saya ngomong agak keras karena kaget "Lhoh Prof orang Indonesia toh?" hahaha. Sejak saat itu kami sering berkomunikasi lewat email. Saya cerita keinginan saya kuliah di luar karena ingin belajar dan melakukan lebih banyak riset. Beliau bilang untuk saya daftar beasiswa ini dengan LPDP, bahkan beliau bikinin saya surat rekomendasi untuk LPDP. Maka dengan tekat sekuat baja saya siapin bener-bener berkas saya jauh sebelum portal pendaftaran dibuka. Namun, Tuhan berkehendak lain. Di awal tahun 2017 kaya disetrum petir rasanya pas tahu LPDP hanya buka setahun sekali, bukan 4 kali setahun seperti tahun-tahun sebelumnya. Karena batasan waktu yang diberi masih jauh sebelum pendaftaran LPDP, dengan berat hati saya lepas Umeå. 

Proses pendaftaran yang menurut saya paling ribet dan paling mahal. Ga ding, karena saya cuma keluar uang untuk pendaftaran uni ini aja, yang lainnya gratis. Pendaftaran uni di Swedia itu unik karena tersistem jadi 1 portal untuk pendaftaran ke semua Universitas. Sistem yang mirip dengan SBMPTN ya. Dengan biaya 900 SEK (sekitar 1.5 juta Rupiah), satu pendaftar bisa memilih hingga 4 pilihan universitas, jadi untung banget buat yang mau daftar banyak dan ga peduli jurusan pokoknya pingin kuliah ke Swedia, titik. Hahahaha. Silakan klik LINK untuk melihat portal pendaftarannya. Portal ini terakhir saya tahu pembukaannya setiap tahun sekali, dimulai pada tanggal 1 Desember sampai 15 Januari. Saran saya jangan mepet2 deadline, karena traffic nya super padat dan gampang macet. Silakan dicek di link yang sama ya. Semuanya tertulis lengkap disana. Oh ya saya dapet Unconditional LOA tangal 28 Maret. Jadi kurang lebih 2 bulan setelah deadline pendaftaran. Wah lama juga ternyata hahaha.

2. Erasmus University Rotterdam, Rotterdam, Netherland (Master of Science in Health Sciences)
Sampe sekarang ada rasa sesak juga di dada setiap inget uni satu ini. Karena program master nya menurut saya bagus banget. Terarah langsung ke banyak pilihan spesialisasi jadi tinggal pilih apa yang dimau.
Pendaftarannya pake website Studielink. Caranya gampang, tinggal ikutin aja alur di website nya.
Deadline pendaftarannya ada 2; 15 Januari (untuk numerus fixus) dan 1 Mei. Saya lupa tapi waktu itu saya yang mana. Dari website itu, bisa dilihat aplikasi kita lagi diapain, diterima, diproses, terus kalo dapet bakal berubah statusnya jadi accepted. Dulu saya nunggu lamaaa banget buat pengumuman uni ini. Sampe bete pokoknya.

3. Royal Tropical Institute (KIT), Amsterdam, Netherland (Master of Public Health)
Daftarnya gampang pake banget. Sama sih. Tinggal buka websitenya, daftar akun baru, upload berkas-berkas diatas, tunggu 2 minggu aja waktu saya dulu trus tau-tau dapet email LOA deh. FYI, Untuk tahun ini, deadline nya 1 Juli 2018. 

4. The University of Adelaide, Adelaide, Australia (Master of Public Health)
Australia adalah benua yang saya pikirkan pertama kali waktu saya bermimpi kuliah di luar negri. Tapi ternyata takdir berkehendak lain. Karena ga jadi daftar LPDP jadinya saya cari rejeki di Eropa dengan beasiswa eropa yang katanya lebih mudah ditembus. Kalau uni ini saya daftar pas lagi pingin tau kemampuan diri aja, jadi agak males dan ga berharap. Makanya waktu buka websitenya saya ga bener-bener baca dengan teliti dan karena males itu, langsung aja saya hubungi agen IDP. Saya email ke salah satu karyawannya beserta upload semua berkas pendaftaram saya, terus saya tinggal tunggu. Tanpa repot tanpa uang tau-tau seminggu kemudian LOA dikirim ke email saya hehe.

5. Heidelberg University, Germany (Master of Science in International Health)
Jujur. Saya takut banget waktu daftar uni ini karena ranking nya 45 sedunia. Saya takut setengah mati pokoknya. Puji Tuhan saya diberi rejeki untuk akhirnya sekolah disini saat ini. 
Oh ya untuk daftar uni ini ada syarat yang beda dari uni lainnya selain form aplikasi, yaitu bukti kerja minimal 2 tahun di ranah yang linier dengan program studi, dibuktikan dengan surat kontrak kerja dan rekomendasi dari atasan. Syukurnya pengalaman saya jadi research assistant di Public Health department di uni saya saat S1 selama 4 tahun dianggap cukup.
Pendaftarannya sama, lewat website institute dan 3 minggu setelah deadline pendaftaran, kalu lolos bakal dikirimin LOA lewat email. Deadlinenya untuk yang mau daftar dengan DAAD yaitu bulan Oktober tahun sebelumnya, untuk yang daftar lewat jalur umum deadlinenya April.

Oh ya. Uni lain yang akhirnya ga saya datengin saya kirimi email permohononan maaf dan saya jelasin alasan saya selengkap-lengkapnya, biar saya ga di blacklist dan kesempatan yg saya lepas bisa dikasih ke yg lain.
Semua uni yang saya daftar gaada syarat ujian/wawancara, cuma modal berkas aja. Semuanya gratis, kecuali untuk pendaftaran ke Swedia. Gampang banget to? Tapi emang tergantung jurusannya ya. Suami saya yang daftar molecular medicine harus ujian dan wawancara dengan setiap prof uni yang didaftar. Bahkan ada prof yang ngajak wawancara via Skype 4 kali. Hahaha.
Jadi intinya jangan takut duluan kaya waktu saya daftar Jerman ya. Percaya diri dan juga percaya bahwa semuanya sudah diatur dari sebelum kita lahir sama Yang Diatas. Biar pasrah, ikhlas dan ga ngoyooo. Kalau masih ada yang mau ditanya jangan sungkan untuk kirim email ke saya (melaniratih@yahoo.com). Good luck!😊

December 27, 2017

Belajar hidup

Tahun ini saya mendapat banyak sekali berkat. Mulai dari saya akhirya resmi menjadi seorang dokter, dilamar dan menikah dengan pria yang sudah jadi pacar saya selama 6 tahun, Ibu saya berhasil melewati masa 5 years survival dari breast cancer dengan sehat dan selamat, saya diterima di 5 universitas di 4 negara dengan program studi yang saya idamkan sejak lama, tinggal di luar negri sebagai seorang mahasiswa dan juga istri, dan masiiiiiih banyak hal baik, hal buruk dan hal terburuk lainnya yang membuat saya semakin belajar untuk bersyukur.

Sebagai bentuk ucapan syukur, salah satu nazar saya adalah dengan menulis gimana cara saya bisa dapat LOA (Letter of acceptance) atau surat sakti masuk perguruan tinggi luar negri. Tapi nggak sekarang ya hehe. Sekarang saya mau curhat dulu.

Hari ini tepat 3 bulan saya dan suami tinggal di Heidelberg, Germany. Banyaaak banget yang pingin diceritain tapi selalu lupa mau nulis atau nggak keselip sama kegiatan lain terus ujung2nya nggak inget deh kalo mau nulis. Kalau mau dibilang ga berasa sih ya ga gitu juga. Berasa kok kuliah 8 jam setiap hari senin sampe jumat-nya. Berasa juga ujian setiap bulan-nya (beneran ini nggak pake lebay, saya ujian tiap bulan macem dek koas lagi). Tapi masih belum paripurna juga sih, banyak yang belum dialamin disini. Contohnya ya itu...belum wisuda dan belum diberi keturunan hehe. Berikut beberapa hal yang baru bisa saya share saat ini. Semoga berguna :)


STUDI

Percaya deh. Jangan pingin studi di luar negri cuma karena pingin "kelihatan" keren di Instagram. Bisa jalan-jalan keliling Europe pake jaket tebel dan boots. Inget ya: sekolah disini susah. Dari mulai dapet LOA aja udah kerasa susahnya. Saingan dengan banyak orang keren dari seluruh penjuru dunia. Begitu masuk disini, bedaaaaaaa banget pokoknya. Contohnya yang saya alami, saya seangkatan cuma 21 orang. Model kelas kami kaya kelas bimbel gitu deh. Meja ditata letter U dan setiap kelas selalu model pembelajarannya interaktif. Jadi ga ada tuh yang kaya di Indonesia dosennya ngomong 1 arah terus mahasiswa cuma mangguk-mangguk biarpun ngerti atau nggak hehe. Disini kelas modelnya diskusi, semua slide cuma poin-poin aja yang dipaparin, terus penjelasannya? Ya dari diskusi itu. Jadi kelihatan deh siapa yang beneran paham dan siapa yang cuma bisa bengong.
Terus ya, disini tu kerasaaaa banget kalau di Indonesia dapat nilai bagus itu gampang. Gampang pake banget. Cuma belajar bank soal/IR aja tau-tau lulus dapet nilai bagus hahaha. Tapi kalau disini, ujiannya bukan soal hafalan. Tapi lebih buat menguji seberapa paham kita sama konsepnya. Jadi sekali ga paham konsep, hahaha ya udah bye! Jadi kalau mau kuliah di luar negri cuma karena pingin "kelihatan" keren, udah mending batal aja. Beneran butuh niat yang gede supaya selalu kuat menjalani hari-hari yang beneran keren disini.

Terus nilai ujian itu cuma saya sendiri, program manager sama Tuhan yang tahu karena nilainya dimasukin ke amplop dan ditaruh di loker masing-masing. Ya kecuali kalau ada teman yang tanya berapa nilai saya ya mereka jadi tahu juga deh hehe. Tapi metode ini bagus banget menurut saya. Beda sama waktu saya S1 dulu, nilai ujian dipampang di papan jadi semua warga kampus mau mahasiswa, dosen, gebetan, CS, satpam atau bahkan orang tua murid lain yang lewat pun bisa lihat nilai kita. Walhasil kalau dapet nilai jelek malunya pasti susah banget disembunyiin.

Universitas Heidelberg ini yaampun banget deh. Meskipun tahun ini dapet ranking 45 sedunia sebagai universitas terbaik, tapi dosen-dosennya selaluuu aja bilang kalau mereka masih kalah sama universitas lain dan makanya selalu berusaha ngasih support yang terbaik buat mahasiswa dan sangat membantu mahasiswanya buat publikasi internasional yang mereka nilai masih kurang banyak. Saya bersyukur banget milih kuliah di tempat ini, nggak ada yang namanya cukup, selaluuu ada yang harus digali dan dikembangkan lebih baik. Di bulan ketiga studi kami, kami sudah dipaksa buat punya topik thesis dan milih 1 supervisor yang nantinya cuma akan membimbing 1 mahasiswa. Jadi beneran paripurna gitu deh bimbingannya. Saya sendiri sangat beruntung dapat 1 pembimbing yang super baik bak malaikat dan super ahli di bidang yang saya inginkan serta punya banyaaak sekali publikasi internasional di bidang tersebut. Jadi ini juga keuntungan lain sekolah di luar negri, perluas jejaring dan kesempatan :)

Oh ya ada lagi, jadi sekelas saya yang cuma 21 orang itu, cuma 1 orang teman saya yang orang German asli. Sisanya? Ya dari mana-mana. Ada yang dari India, Bhutan, Nepal, Iraq, Syria, Canada, Brazil, Peru, Mexico, Yaman, Nigeria, Ethiopia, Ghana, Lesotho, Cameroon, Equador, Italia, dan US. Jadi nggak cuma belajar materi kuliah, tapi kami juga belajar hidup ditengah perbedaan budaya, latar belakang pendidikan, agama, pandangan hidup, jadi kami  belajar hingga bener-bener paham yang namanya menghargai satu sama lain.


HIDUP

Kami sebulan habis kurang lebih 800 Euro sebulan. Buat hidup berdua lho itu. Murah kan? Itu udah termasuk biaya apartment, listrik, air, penghangat ruangan, makan (kurang lebih 10 Euro per minggu), asuransi, transportasi, pulsa dan internet. Bisa masak sepuasnya dan makan enak sampe internetan lancar unlimited pokoknya.
Matahari mulai nampak jam 8 pagi dan akan beneran tenggelam hingga gelap total jam 5 sore. Disini cuacanya lagi mengerikan. Pernah nih suatu pagi di bulan Desember hangaaat banget dan ada sinar matahari. Sampe saya lepas jaket tebel saya pas lagi perjalanan ke kelas. Tau-tau siang jam 12 turun salju. Gitu deh. Kemana-mana harus bawa jaket tebel (paling nggak sampe akhir Januari nanti) dan payung.
Terus apa ya... ah ya. Ga kaya di Indonesia, disini banyak orang bepergian naik sepeda, mau dia mahasiswa kek atau profesor sekalipun ya naik sepeda. Nggak ada yang ngejek atau ngrasani si prof miskin tuh hehe. Kalau saya sendiri sih masih nggak berani naik sepeda ke sekolah. Arusnya kenceeeng, mereka naik sepeda tapi pake kecepatan mobil yang jalan 40 km/jam. Saya ga mampu ngikutinnya huhu.. jadi ya setiap hari ke kampus atau kemanapun naik bis. Untungnya di Germany ada semester ticket jadi dengan biaya 165 Euro bisa dapat akses naik turun bis kota, tram, dan S bahn bebas bahkan sampe ke Mannheim (kota sebelah) selama 6 bulan. Ngirit!

MAKAN

Entah kenapa yang satu ini susyahhhh byanget buat diajak adaptasi. Sampai dengan detik ini perut saya cuma doyan sama nasi. Belum makan rasanya kalau belum makan nasi. Susah pokoke diajak makan kentang sama salad aja kaya German pada umumnya. Siapa bilang sosis dan keju sini enak? Mereka bohong :( Yah semoga ini cuma karena belum kebiasa aja ya.

BAHASA

Saya dan suami sama sekali nggak bisa ngomong bahasa sini lho. Suami saya nihil. Saya masih ngerti yang dasar-dasar kaya buat transaksi gitu karena untungnya dapet kelas bahasa sebelum mulai kuliah. Tapi untungnya kami bisa hidup dan utuh ya :') hehe.. tenang. Kami lagi proses kursus bahasa lagi kok biar "agak" nJermani hahaha.

-------
Ya, masih banyak hal tentang Germany yang belum saya ketahui dan lihat. Saya masih dalam tahap "meraba dan merangkak" mencoba memahami cara kerja dari semua hal baru yang saya temui sambil berusaha untuk tetap enjoy the moment, tapi sampai detik ini Puji Tuhan sih masih jatuh cinta dengan Germany. Just wish me luck!

Dan untuk semua rekan-rekan seperjuangan... selalu nikmati dan syukuri adalah kunci saya sabar. Semangat berproses!

August 19, 2017

A week before

So here I am, a week before the day that I've looked up to for the last 6 years having a relationship with a (not so) boy named Johan. I never feel like this before. Obviously nervous yet tremendously happy for the same time. Once in my lifetime, I will walk to the aisle and make a vow to God as follow as "I, take you, for my lawful husband, I promise to be faithful to you in good times and in bad, in sickness and in health, to love you and to honor you all the days of my life."

I would hate to belittle the joy that the future holds by labeling this single day as “the very happiest.”
The flowers, the gifts and the sparkly dresses are wonderful and exciting things, but those aren’t the things that should be bringing me happiness. The reason for my joy should be the one I'm exchanging rings with.

I hope that when my wedding day comes I will get to wear my dream dress, listen to my best friends give toasts that make me cry and dance with my dads to some cheesy father-daughter love song. I hope I will feel love in ways I’ve never experienced before, and that nothing but happiness will fill my spirit that day, but most of all I hope that happiness is one that doesn’t go away as I ride off into my happily ever after.

February 27, 2017

Belajar IELTS Versi Saya

Halo. Sudah lama sekali sejak tulisan saya yang terakhir di laman ini.
Well.. tulisan ini dibuat untuk memenuhi janji saya kalau saya bisa dapat skor IELTS yang saya butuhkan dalam sekali ujian. Cerita dibawah ini adalah strategi saya, sesuai dengan metode belajar saya sehari-hari. Jadi, jika ingin menerapkan metode saya, akan lebih baik jika disesuaikan juga dengan metode belajar masing-masing ya.

Apa itu IELTS?
International English Language Testing System disingkat IELTS adalah uji coba kemampuan berbahasa Inggris yang diselenggarakan bersama oleh Universitas Cambridge, British Council dan IDP Education Australia. IELTS sendiri digolongkan dalam dua macam modul ujian yaitu Modul Umum dan Modul Akademis (Sumber: Wikipedia). Pengalaman yang saya tulis ini uji modul akademis.

Apa bedanya IELTS dan TOEFL?
Berapa biaya tes IELTS?
Kapan jadwal tes IELTS dan dimana aja ujiannya dilaksanakan?
Untuk yang ini silakan googling sendiri ya.

Ih pelit...
Nggak pelit koook. Saya udah nggak sabar pingin ngetik cerita pengalaman saya nih hehehe.
__________________________________________________________________

Jadi gini awal mula ceritanya.
Sekolah di luar negeri adalah cita-cita saya sejak kecil.. tapi saya baru sadar pas semester akhir-akhir (tahun 2015-an) kalau bisa nulis dan ngomong bahasa inggris aja nggak cukup. Butuh bukti yang menunjukkan kalau kita bener-bener mampu berbahasa inggris. Dengan apa? Ya dengan selembar result test IELTS atau TOEFL. Maka, sejak itulah saya keliling kota bersama pacar (yang syukurnya.. punya visi misi seirama) mencari tempat kursus IELTS untuk memantapkan kemampuan kami. Perlu diingat bahwa tes ini harganya luar biasa mahal, jauh lebih mahal dibandingkan dengan TOEFL. Sementara, rumornya untuk menaikkan band 0.5 saja membutuhkan waktu belajar minimal 200 jam! Wow.
Jadi, alangkah lebih baik jika sebelum ujian sudah mantap dan percaya dengan kemampuan diri. Lalu kenapa kami mengambil IELTS dan bukan TOEFL? Karena sepengamatan kami IELTS secara lebih universal digunakan sebagai entry requirement, bukan lagi TOEFL.

Akhirnya setelah bertahun-tahun berusaha mencari waktu luang, kami ikut prediction test IELTS di IELC. Beneran deh.. tes ini menegangkan banget. Gimana enggak, kalau skornya ga nyampe 6 gabisa ikut paket kursus yang cuma berapa puluh jam itu.. harus ambil yang 300an jam. Sebenernya paket yang lama ini lebih murah, tapi membayangkan harus bolak-balik kursus di tengah kesibukan jadi dek koas yang jadwal jaga malamnya ga menentu aja udah bikin puyeng. Puji Syukur.. skor prediksi kami memungkinkan untuk ikut paket kursus singkat yang kami mau.

Listening
Ini adalah tonggak terdepan saya. Kemampuan yang saya paling kuasai dan saya kembangkan supaya bisa membantu menaikkan overall score. Wajar jika pertama kali teman-teman bingung saat mendengar rekaman listening IELTS. Aksen yang mereka gunakan bervariasi, mulai dari British yang super kental a la Hermione Granger yang lagi kumur-kumur, Australian yang menurut saya lebih sulit dibanding British, dan American.
Cara belajar saya selain ambil kursus adalah dengan mendengarkan lagu English yang saya belum pernah dengar sebelumnya dan mencoba mengerti apa lirik lagu tersebut. Juga dengan cara menonton film tanpa baca subtitle. Saat ujian, listening lah yang akan diujikan di awal. Gunakan kesempatan ini untuk memusatkan seluruh konsentrasi saat mendengarkan rekaman ya. Saat latihan saya jadi sadar bahwa dengan memahami seluruh cerita dalam rekaman lalu membuat note di lembar soal, dan bukan hanya berusaha mencari jawaban soalnya, terbukti lebih berhasil menaikkan band. 

Reading
Fokus! Itulah kunci meraih band tinggi. Selain itu, hobi membaca sehari-hari dan wawasan yang luas juga membantu menjawab soal. Percaya deh, kalau merasa sudah pernah membaca bacaan dengan topik yang dikuasai pasti akan terasa lebih mudah dalam menjawab soal, dibandingkan dengan apabila ide cerita tersebut baru pertama kali dibaca.
Cara saya gini:
Lihat perintah soal - garis bawahi kata kunci di setiap soal pada part tersebut - skimming paragraf bacaan - garis bawahi nama, tahun, angka dan kata-kata penting yang bisa jadi jawaban soal - scanning - kalau ada paragraf yang susah biasanya saya whole reading.
Perlu diingat! Jawaban pasti ada di soal bacaan. Jangan ngarang. Ingat selalu perintah, diminta 1, 2 atau 3 kata ya dikasih aja yang diminta, jangan dikurangi maupun ditambah. Terakhir, just copy and paste the word(s)!

Writing
Harus latihan, latihan dan latihan. Keuntungan ikut les ya ini, kita bisa latihan dan dinilai secara langsung oleh guru-guru yang kompeten sebagai penilai IELTS tetapi lebih memilih menjadi guru dibandingkan penguji (mereka harus memilih salah satu: mengajar atau menguji). Jadi, kami bisa tau sudah seberapa sih kemampuan kami menulis dan bagaimana cara meningkatkan skor kami dengan mengasah kemampuan dan menghilangkan kelemahan kami masing-masing. Gimana caranya bikin jembatan bagus antar kalimat, gimana cara menonjolkan maksud tulisan kita. Serius deh, ikut kursus bikin kami sadar kalau selama ini gaya penulisan academic english kami ga oke.

Speaking
Kalau teman-teman malu atau nggak ada teman buat latihan, saya rekomendasiin juga untuk ikut kursus. Karena yang paling penting dari bagian ini adalah fluency alias kelancaran berbicara. Nggak boleh ada umm....ah....well... Bahkan kalau lagi mikir jawaban aja harus dijawab dengan apik seperti "I'm not sure how to answer your question because it is not my topic of interest" yang bisa menambah nilai plus hahaha. Speaking IELTS bukan uji pengetahuan. Jadi, apapun jawabannya mau itu nyambung atau nggak nyambung, yang penting lancar dan nggak ada blocking atau remming. Teman-teman bisa lihat video gratis di youtube yang banyak sekali itu. Bisa dilihat bahwa nggak semua jawaban masuk akal, tapi mereka berbicara dengan lancar, jadilah mereka mendapat band tinggi.

Dan yang paling penting...
Berdoa, tidur nyenyak malam sebelum ujian, sarapan bergizi, minta restu Ibu dan Bapak.
Remember that the IELTS test is just one step towards fulfilling your goals and that you are already on your way to achieving your dreams.
Selamat meraih mimpi :)

Empathy

August 01, 2016

Star

For at least a portion of its life, a star shines
And after it is exhausted, it stops shining and disappears

Even the prettiest thing in this universe has an expiry date
A star doesn't shine forever, but while it does, it makes the world happy
People look up to a star, and wish their dreams upon it

Little do we realize, we are also stars
Have we shined bright enough for the world to see
That is the question
#88lovelife