THE BACKSTAGE
there's so much going on
unspoken in the back
of the mind

May 11, 2014

Bertahan

Semakin hari semakin malas rasanya pergi kesana.
Ke sebuah bangunan yang harus kudatangi untuk memenuhi tanggungjawabku sebagai anak yang sudah dibiayai untuk bersekolah disana.
Bukan karena bosan dengan kegiatan belajar, bukan juga karena jadwal yang semakin sibuk.
Semata-mata karena lingkungan yang mulai berubah, gosip dan fitnah yang semakin lantang terdengar dan tersebar luas tanpa satu pun dari mereka ingin tahu kebenaran yang ada.

Aku harus bertahan.
Tuhan selalu punya cara untuk mengujiku. Mungkin ada satu waktu dimana aku merasa mendidih, muak dengan semua permainan-Nya. Ingin keluar. Atau mengumpat-umpat dengan segala sumpah serapah. Ayo bertahan. Kamu tidak sendirian, tih. Bukan satu-satunya yang sedang berjuang.

Tuhan, aku lelah.
Tapi aku harus yakin bahwa selalu ada senja yang mendamaikan, untuk mereka yang telah berhasil tetap bertahan setelah bertarung seharian. Di tengah terik yang menyengat dan melelahkan. Kata mereka, apa yang kamu keluarkan sepadan dengan apa yang kamu dapatkan, dari Dia yang Maha Memberi.

Jadi, jangan menyerah. Bertahanlah.

Ketika

Ketika kamu jatuh cinta, dan mendadak saja semuanya gelap gulita.
Kamu buta. Lalu kamu menjadi lemah tak berdaya. Rapuh dan gampang terluka.
Paranoid dan mudah terbakar, bahkan oleh sesuatu yang sangat tidak masuk akal.
Tahu tidak, hanya mereka yang sedemikian berharga, yang memiliki kuasa untuk melukaimu -sengaja ataupun tidak. Dan sebaliknya juga, hanya mereka yang sedemikian berharga, yang dapat menyenangkan hatimu hingga sebegitunya.
Kamu, menjadi rentan tertawa dan bahagia, karena sesuatu yang biasanya bahkan luput dari panca indera saking sederhananya.

May 10, 2014

Series of trade-offs

Life is a series of trade-offs. Sometime (or most of the time) you need to sacrifice something, but just remember to choose the thing that makes you happiest. Know one thing that makes you happy the most. Pick it, because why living a miserable life when you actually have the chance to pick another path?
If you haven’t found that ‘one thing’, then keep on looking. Do not settle and keep on walking. Especially don’t settle when the only thing that makes you stay is your fear slash you stay just because you are too afraid to take the risk.
Take the risk; it’s either now or never.
The future is in our hand, and I myself don’t want to be that person who in the end of her life, regrets a lot and asks ‘what if’ to herself.

May 04, 2014

Complicated me.

I just like to complicate myself, thinking of things I shouldn't bother, having stupid thoughts on small stuffs instead of feeling thankful and satisfied with what I got so far. Well, isn't it a classic issue?

So I am really wondering, will I survive this time? If I ever survive, am I just adapting or am I really getting mature and realistic (as opposed to being naive). 

Oh Ratih, why are you so complicated? Will you ever be 'a half-full glass'?

April 01, 2014

Ayo Kita Raih Mimpi

Seorang teman bercerita tentang penolakan dunia terhadapnya.
Tentang cerita masa lalunya yang sering diremehkan oleh orang-orang disekitarnya.
Hampir selalu.
Pengalaman pahit sejak masa sekolah yang tertumpuk hingga sekarang, tentu menimbulkan trauma psikologis yang menyakitkan.
Dihina karena pembawaannya yang kurang meyakinkan, kerena bermimpi menjadi dokter, karena membuat karya tulis, karena punya mimpi besar.
Dihina oleh mereka yang jika boleh jujur, sangat jauh dibawah temanku ini.
Sekarang dia berusaha mati-matian melakukan pembuktian supaya diakui oleh mereka.
Meskipun sudah beberapa bukti ia tunjukkan,
hello, memang mereka peduli?
Yang ada malah semakin diremehkan, semakin tidak dihargai.
"kamu nggak tau sih rasanya diginiin.."
Maaf, aku memang sedikit lebih beruntung.
Tapi, aku bisa jadi tempat cerita, tempat kamu menumpahkan semua emosi.
Dan aku akan membantumu mewujudkan mimpimu, dan membuktikan pada mereka siapa kamu sebenarnya dan betapa hebatnya kamu.
Hidupmu nggak menyedihkan, karena ada aku yang selalu ingin membahagiakanmu.
Tapi tolong, pembuktian itu bukan segalanya.
Bukankah menabung untuk masa depan di dunia sana lebih penting?

Proposal skripsi, gerimis, telepon, teh tarik.

February 13, 2014

Hard to be

To be fearless, not senseless.
To be brave, not coward.
To be cautious, not foolish.
To be clever, not mindless.

To be myself, not anyone else.

Lelah

Bagiku, hidup itu tidak pernah terasa mudah. Bahkan ketika aku melewati hari-hari yang menyenangkan, bertemu orang-orang yang begitu peduli dengan diriku, menghabiskan waktu berbincang akan banyak hal, mengulas banyak permasalahan dan solusi yang mungkin, atau sekadar mencurahkan isi hati. Aku memang orang yang begitu rumit.

Ada banyak waktu di mana aku merasa rumit menjadi orang yang begitu rumit. Ada terlalu banyak waktu ketika aku hanya menginginkan satu hal: menjadi orang yang sederhana. Punya pemikiran yang sederhana, punya keinginan yang sederhana, dan bisa memaknai hidup dengan sederhana. Sayangnya, sekeras apapun aku berusaha menjadi orang seperti itu, aku justru semakin sulit bergulat dalam dan dengan diriku sendiri.

Ya, aku memang aneh. Mungkin yang paling aneh dari kumpulan yang teraneh. Aku tidak bisa begitu saja tidur bahkan ketika sudah seminggu aku hanya tidur selama 5-6 jam, dan melewati minggu yang begitu panjang. Aku tidak bisa tidak memikirkan hal-hal kecil tentang diriku dan hubunganku dengan orang-orang terdekatku. Aku tidak bisa tidak harus menuliskan semua isi kepalaku untuk bisa tidur dengan tenang, seolah tidak ada hari esok, dan persoalan itu harus diselesaikan sekarang.

Nah, di saat-saat seperti inilah aku merasa bahwa I am so full with myself. Padahal, jika aku zoom out sedikit saja, batang tubuhku sama sekali tidak nampak di bumi ini (baca: jika dilihat dari pesawat udara). Apalagi jika dilihat dari pesawat luar angkasa.
Kadang manusia memang suka lupa, bahwa di luar sana, ada terlalu banyak hal yang tidak bisa dikontrol. Kehidupan galaksi, bintang-bintang, bahkan miliaran ikan di lautan dan burung di udara tidak bisa kita kendalikan sepenuhnya. Kita terlalu sering sibuk berpikir bahwa masalah kita begitu rumit sehingga waktu istirahat pun pantas ditunda karenanya. Kita seolah yakin, hari esok akan tiba pada saatnya.

Memang, Tuhan punya janjiNya sendiri. Dan manusia perlu berpasrah sambil berusaha. Tapi sungguh, aku tidak ingin menjadi terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Dengan ketololan pemikiran yang sebenarnya kuciptakan sendiri. Di titik inilah aku perlu belajar berdamai dengan diriku, dengan dunia. Menanamkan dalam otakku bahwa ada banyak hal di dunia ini yang ada di luar jangkauanku. Jadi ada saatnya aku perlu berhenti memikirkan dan mengkhawatirkan segalanya secara berlebihan seperti ini.