THE BACKSTAGE
there's so much going on
unspoken in the back
of the mind

April 08, 2013

Terkadang

Ada satu fase di mana kita cuma butuh waktu sendiri. Memilih minggir ketika semua sibuk berlarian mencari kesenangan. Memilih ke sudut ketika yang lain menyerbu ke tengah. Menghitung lambat setiap detik yang terlewat. Menikmati perubahan sudut bumi ketika ia berputar pada porosnya. Menyerapi perubahan volume udara di ruang yang tidak kosong itu.

Tenggelam dalam sepi. Bukan untuk sedih tapi untuk memahami.
Terpejam. Melatih indera peraba bekerja lebih ekstra. Memaksa indera pencium peka terhadap aroma. Mendorong indera pendengar berlatih mendengar nada yang nyaris tak bersuara.

Tenggelam dalam sepi. Bukan untuk sedih tapi untuk berpikir.
Terpejam. Melihat dalam diri tentang apa yang harus dikoreksi. Mereka-reka bentuk kehidupan apa yang ingin dimiliki. Membentuk imaji tentang bahagia yang selama ini abstrak dan tak bernyawa.

Tenggelam dalam sepi.
Bukan untuk sedih tapi untuk menyendiri.

April 07, 2013

Blessed

Hai. Mau cerita.
Di desa mbah (nenek) ku satu-satunya yang belom di pundhut sana, daerahnya tergolong miskin dengan rata-rata penduduk menengah kebawah yang sehari-harinya bekerja sebagai petani. Jadi bisa dibayangkan bukan  bagaimana beratnya beban jika ada salah satu keluarga yang sakit dan membutuhkan biaya mahal untuk pengobatan.
Sebut saja ibu A tetangga mbah di desa, beliau terkena HNP atau yang biasa org awam bilang, saraf kejepit. Oleh dokter yang mendiagnosa dirujuk untuk operasi, mendengar kata operasi tentu saja ibu A dan keluarga ketakutan dengan biaya yang harus dilunasi. Di perjalanan pulang ibu A bertemu dengan seseorang yang sebelumnya menderita penyakit yang sama. Orang tersebut menyarankan ibu A supaya berobat ke salah satu rumah sakit negeri di Solo, orang tersebut juga menceritakan biaya untuk operasi yang harus ia lunasi, 90juta.  Yup, sembilan puluh juta rupiah. Sadar akan kondisi keuangannya, ibu A memilih untuk membiarkan penyakitnya.
Satu minggu kemudian datang mobil ambulans ke rumah ibu A, menjemput ibu A ke rumah sakit negeri. Oleh perawat ibu A disuruh untuk berkemas karena beberapa hari kedepan beliau harus tinggal di rumah sakit, setelah operasi selesai. Dan tanpa diduga sebelumnya, biaya operasi ibu A sudah dilunasi oleh seorang donatur yang ternyata adalah orang yang ia temui dan yang memberikan saran supaya ibu A di operasi di rumah sakit negeri tersebut.

Jengjengg. Panjang ya?
Itu adalah kisah nyata tanpa bumbu-bumbu palsu sedikitpun. Inti dari cerita itu, setiap keluarga memiliki masalahnya masing-masing. Baik kesehatan, keuangan, keharmonisan dalam rumah tangga, kesulitan dalam mendidik anak-anak, dan sebagainya. Kita hidup di dunia ini tidak sendiri, bersyukurlah dalam setiap berkat yang kamu terima, sekecil apapun, karena mungkin diluar sana seseorang sangat mendambakannya. Dan berkat Tuhan kita rasakan melalui tangan orang-orang di sekitar kita. Jadi terbukalah, supaya berkat itu datang dengan mudah, dan selalu percaya bahwa Tuhan tidak pernah memberikan masalah tanpa memberi kita cara untuk menyelesaikannya.

March 25, 2013

Fly!



I wanna fly away,
High...higher...and to be the highest eagle to fly in this rounded-planet, named earth. 
I wanna go across the distance,
Killing seconds, minutes and hours that i had left at this rounded-ticking thing, named clock.
I wanna run,
Fast...faster...and to be the fastest woman alive that could run in this compiling continents and islands, named world.
I wanna be just like a kite without nylon string that flew high at that blue sky above,with the helping of the blowing wind surround it,
Yeah, surely, I'll be that eagle-kite.

March 20, 2013

Desperation

I lived in my imagination.
I construct it with my illusion.
I colour it with my memory.

I lived in my imagination.
I build my own blurry boundaries between what is real and unreal.
I create my own cycle that cannot be determined by time.

I lived in my imagination.
Often pretending to hug a surreal figure.
Embedded my self to my own fantasy land way behind my consciousness.

I lived in my imagination.
Playing in my own sandy box with my imaginary friend.
Singing along with arrhythmic tone.

I lived in my imagination.
Where i can hide in my own treasure box.
Bury it and guessing who will found me a decade from now.
This is surreal, this is unreal, this is a dream.

should i open this box and going out to retrace the reality?

March 17, 2013

Chapter 1.0: Introspection

This is another chapter of my life, with an underline title, named introspection.
"when light arosed at the early of your beautiful day, it must be dark covered it up in order to ended the day."
We lived in a multicolored world. Indeed our life is changing, like a kaleidoscopic color, which can only seen through a kaleidoscope. Sometimes it is fading out, becoming pale. Turned the multicolored to the monochrome. If you are the panchromatic person, you can really feel the changes, even a slight variegation.
It is like chromatic color turns to achromatic color.
Like us,
Mistakes.
Fools.
Indeed turns our life upside down. It is like a two-faced coin, we never know exactly when we'll be plunged into a hole named, mistake. The chromatic color-life that we lived in suddenly rolls down and causing us stuck in achromatic color-life. At that moment, we're covered up in silent. Sat quietly, mused. This is the chapter of our life, named introspection.
And yeahhh, i am now currently there. Living in this achromatic color, struggling to pull out my self from this hole. Still trying to color up my self.

March 16, 2013

Mau nasi goreng?

*tek tek tek tek* (tukang nasi goreng lewat depan rumah)
"Mau nasi goreng?"
"Nggak, kalo kamu yang masakin baru mau"
"Emm"
"Ngapa? Soswit?"
"Nggak"
"Yaudah kalo ga soswit"
"Kita ga jelas mas"
"Yaudah yang penting aku ngomongan sama kamu, aku seneng"
"Hehe. Yang penting hubungan kita jelas"

Thank you for being my partner in crimemy motivator, my bestfriend, for being there for me anytime I need you, mas.
Thank you for being mine.

Amin

By the time I finally turned 30, I want to make my parents proud not for the quantity of money I could give them, but for the quality of person I’ve became. And that’s a promise that I’ll carry on my whole life with until I fulfill it.
- Melani Ratih M.